Wali Kelas

DARI YANG TERENAK HINGGA YANG TIDAK ENAK
SEBAGAI WALI KELAS

From : Ulik W

Resume perbincangan, candaan, keluhan, laporan, kajian, sampai bahan evaluasi sebagai wali kelas. Walau tanpa Tunjangan seorang wali kelas tetap berusaha melaksanakan tugas dengan konsisten.  Hal yang enak apa bila orang tua memahami capaian nilai anaknya serta memberi bingkisan/kado ucapan terima kasih, juga hal yang tidak enak seperti orang tua tidak memahami kekurangan capaian nilai anaknya, atau anaknya bandel. Memang kita kadang mendapat perlakuan tidak adil dari orang tua siswa, “ kalao anaknya baik, pinter, sopan orang tua bilang siapa dulu bapaknya…siapa dulu mamanya, tapi kalau anaknya bandel, bodoh, males,tidak sopan, tidak penurut …orang tua akan bilang..siapa sih gurunya…bla.bla..bla..”

Sebagian pembicaraan waktu pengambilan hasil belajar baik UTS, UAS, UKK sering kali wali kelas menitik beratkan informasi siswa pada keberhasilan yang telah dicapai. Bagian kekurangan justru tidak ditekankan. Tetapi dengan menekankan pada keberhasilan, anak menjadi tersemangati walaupun guru dan orangtua wali tetap sadar akan adanya kekurangan. Yang lebih menarik lagi, apa bila wali kelas juga menunjukkan bagaimana (the how) anak didik berkembang dalam penalarannya dengan memperlihatkan berkas-berkas pekerjaan anak/fortopolio. Sebagian dari berkas mohon  diperbolehkan dibawa pulang untuk evaluasi orang tua.

Perlu disampaikan pula perkembangan tingkah laku siswa dalam KBM, termasuk kemampuan mendengarkan, bergaul dengan anak lain, sopan-santun, dan kepatuhan. Sebelum pertemuan wali kelas dan wali murid, siswa diberi daftar isian untuk menilai diri sendiri dalam bidang: tingkah laku/kebiasaan, penggunaan waktu untuk menyelesaikan tugas, dan hasil pekerjaan rumah. Hasil penilaian ini kemudian dibandingkan dengan penilaian yang dilakukan oleh guru yang sudah di sampaikan dari guru bidang studi terhadap anak tersebut. Kalau ada perbedaan yang penting dibicarakan dengan orangtua

Karena wali kelas memiliki tanggung jawab besar, maka tidak ada salahnya sedikit kami sampaikan coretan ini sebagai bahan renungan seorang wali kelas. Wali kelas hendaknya memiliki :

1. Perasaan Sayang

Rasa sayang menjadi  hal yang sangat penting untuk menjadi wali kelas. Jika rasa sayang guru sebagai wali di sekolah tembus pada anak didik kita, maka akan timbul simpati dan empati. Hal ini akan sangat berdampak pada kejiwaan anak-anak. Dengan perasaan sayang mampu mengatasi permasalahan yang terbilang rumit bahkan kesulitan dan problematika anak yang tidak disampaikan ke orang tuanya karena berbagai alasan akan mampu dicurhatkan ke guru wali kelasnya. Problematika yang disembunyikan anak akan dapat teratasi karena kerja sama dengan walikelas melalui bimbingan dan arahan.

2. Bertanggung Jawab

Beraneka ragam tanggung jawab yang harus dipikul seorang guru wali kelas mulai dari manajemen administrasi kelas sampai dengan administrasi sekolah yaitu berupa limpahan tanggung jawab untuk menarik dan mengumpulkan iuran anak-anak misalnya uang untuk kegiatan kesiswaan. Guru wali kelas mendapat mandat dari sekolah untuk mengelola kelas serta dari orang tua untuk ikut memimbing dan mengawasi selama mengikuti kegiatan KBM di sekolah. Jelas tidaklah ringan yang harus dilakukan seorang wali kelas. Untuk itu tanpa memiliki rasa tanggung jawab akan menjadi mustahil terciptanya harapan sesuai dengan keinginan sekolah serta orang tua.

3. Terbuka

Untuk menciptakan suasana keterbukaan, maka seorang wali kelas harus mampu membawa permasalahan yang dihadapi kelas diselesaikan secara terbuka dengan mengkaji permasalahan yang dihadapi. Menyelesaikan masalah tanpa membedakan anak satu dengan yang lainnya serta tanpa menutup-nutupi, artinya yang benar dikatakan benar yang salah dikatakan salah.

4. Disiplin dan Tepat Waktu

Menerapkan disiplin dan tepat waktu membutuhkan suatu sikap (contoh) serta kesabaran. Bagaimana tidak? Di dalam kelas terdapat individu-individu yang terdiri dari karakter yang berbeda-beda oleh karena itu masing-masing siswa juga berbeda. Ada siswa yang sudah terbentuk kedisiplinannya di lingkungan keluarganya, namun tidak jarang yang terbiasa hidup bebas.

Rendahnya sikap disiplin pada siswa akan tercermin pada saat-saat guru wali kelas meminta biodata untuk diisikan dalam data siswa. Pada saat mengumpulkan buku rapot. Dengan sikap wali kelas yang selalu tidak memberikan ruang waktu /tenggang diharapkan mampu merubah sikap anak yang kurang disiplin atau tidak disiplin menjadi disiplin.

 

 

 

 

5. Konsisten dalam Mengambil Keputusan

Permasalahan di kelas sering muncul tanpa disengaja misalnya jadwal piket yang tidak diterapkan seperti yang sudah ditentukan bersama. Bahkan sering juga dijumpai adanya konflik dengan guru pengajar di kelas (biasanya disebabkan oleh suasana KBM yang kurang mendukung) sehingga guru tidak mau mengajar di kelas. Hal-hal seperti itulah yang harus dibicarakan bersama dengan anak-anak di kelas sehingga permasalahan tidak meluas. Apabila tidak ditemukan jalan pemecahannya, maka guru wali kelas harus mengambil keputusan secara adil, namun secara konsisten memegang teguh pada keputusan yang telah diambil.

6. Bijaksana

Agar kita dapat bersikap bijaksana, maka dalam melihat setiap permasalahan dengan melihat dari banyak sisi, di mana terkadang dari sisi yang satu baik artinya tidak ada kendala, namun di sisi yang lain akan membawa dampak yang luas untuk masa yang akan datang. Misalnya kasus perkelahian antar teman sekelas, jika dilihat dari sisi manapun perkelahian tetap salah, namun selaku wali kelas harus mampu melihat sisi-sisi lain dari timbulnya perkelahian ini agar tidak terulang lagi.

7. Mau Mendengarkan

Dengan mendengarkan anak didik, maka akan menjadi jalan dalam menemukan titik terang dari adanya konflik-konflik kecil di kelas. Di samping itu adanya keinginan-keinginan anak yang perlu dibimbing dan diarahkan serta memudahkan dalam mencari solusi atas problematika yang dihadapi anak didik. Karena dengan menjadi pendengar yang baik, maka si anak akan terbuka dalam mengutarakan pendapatnya serta mau mendengarkan juga atas nasehat-nasehat yang kita berikan. Dengan mendengarkan keluh kesahnya, suka citanya, maka akan terjalin komunikasi dua arah yang saling menguntungkan sehingga rasa sayang layaknya orang tua kepada anaknya akan tumbuh dan berkemang, hingga mampu menjadi bahan evaluasi maupun perbaikan diri pribadi ke arah yang positif.

8. Mampu Memberi Wawasan dan Wacana

Rasa percaya diri yang berlebihan , tingginya kualitas sosial dan ekonomi orang tua, bahkan tuntutan orang tua yang tahunya anaknya nilainya bagus tetapi daya dukung finansial yang pelit terhadap pendidikan mengakibatkan sempitnya wawasan dan wacana kehidupan ke arah depannya, sehingga akan cenderung memikirkan sesaat bukan sebaliknya yaitu dampak untuk masa-masa yang akan datang. Misalnya rendahnya wawasan akan pentingnya pendidikan, akan mengakibatkan anak malas untuk sekolah dan rendahnya motivasi belajar anak.

9. Mampu Mengontrol, Mengevaluasi, dan Memperbaiki

Kontrol kepada anak didik tidak harus dengan mengintai tingkah lakunya sehari-hari, namun bisa dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan anak. Atau melihat perkembangan anak maupun menjalin komunikasi dengan orang tua.

Evaluasi dapat dilakukan dengan mengajak secara bersama-sama apa-apa saja yang telah dilakukan, dan apa yang harus dilakukan serta bagaimana cara melakukan  agar semua kepentingan yang berbeda-beda tercover semua. akhirnya semua dengan sadar akan melakukan penilaian guna perbaikan, baik itu bersifat personal maupun bersifat untuk kepentingan bersama. Termasuk di dalamnya evaluasi terhadap guru mata pelajaran yang menjadi kendala bagi sebagian siswa.

From Ulik W

Leave a Reply