DARIPADA TIDAK SEKOLAH LEBIH BAIK KE AL – IHSAN

DARIPADA  TIDAK  SEKOLAH  LEBIH  BAIK  KE  AL – IHSAN

Madrasah  Al – Ihsan berdiri pada Tahun 1974. Madrasah ini  terletak di Desa Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Saat ini berubah menjadi Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.  Tepatnya di Jalan Bambu Apus Raya Komplek Departemen Agama Bambu Apus, Pamulang. Madrasah ini  adalah wakaf dari Bapak H. Abdul Kadir Basalamah ( almarhum) Dirjen Haji Deparemen Agama pada saat itu. Berawal dari Madrasah Diniyah, kemudian berubah menjadi  Madrasah Ibtidaiyah. Tahun Pelajaran 1988 / 1989 berdiri lagi Sekolah Menengah Pertama ( SMP) dan pada  Tahun Pelajaran  1999/ 2000  SMP ini  berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah.

 

Saat ini  Madrasah Al – Ihsan yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah enak dipandang mata. Bangunannya berdiri kokoh, berlantai dua dan halamannya tertata rapih. Lab  Komputer, Lab  IPA dan Lab Bahasa  tersedia.  Guru dan siswa  disiplin dalam melaksanakan  kegiatan pembelajaran. Anak-anak nampak rapih dan guru berdasi. Kebanyakan anak-anak berasal dari keluarga mampu, terutama siswa Madrasah Ibtidaiyah ( SD Islam Terpadu). Ruang belajar sebanyak 20 kelas berjalan secara pararel, terdiri dari 13  kelas  Madrasah Ibtidaiyah, dan 7 kelas  Madrasah Tsnawiyah. Jumlah siswa seluruhnya mencapai 650  orang. Prestasi siswa cukup membanggakan, dan lulusannya tersebar ke sekolah- sekolah negeri dan swasta. Bahkan beberapa orang alumni tahun 2007 melanjutkan studinya  di Universitas Gajah Mada, Universitas Tri Sakti dan Universitas Syekh Kuala pada Fakultas Kedokteran, belum lagi yang melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Jakarta. Para alumni madrasah ini telah berkiprah di insansi pemerintah maupun swasta.

 

Menengok ke belakang bagaimana  kondisi Madrasah Al – Ihsan  sekian tahun yang lalu bisa dibayangkan dari judul diatas “ Daripada Tidak Sekolah Labih Baik Ke Al – Ihsan “. Kalimat  ini  aslinya berbunyi “ Daripada ora sekolah mendingan ke Al – Ihsan”. Kalimat ini  terasa kental di masyarakat Bambu Apus, Kedaung dan sekitarnya sampai tahun 2002. Sinisme ini tentu muncul dari kalangan masyarakat mampu yang  melihat kondisi  Madrasah Al – Ihsan pada saat itu.  Sinisme ini bukan bualan, tapi kenyataan.  Madrasah ini  berdekatan letaknya dengan Perumahan Komplek Departemen Agama dan keduanya hampir bersamaan lahirnya. Tapi sampai tahun 2002, boleh dibilang hampir tidak ada anak Komplek Departemen Agama yang sekolah di Madrasah Al – Ihsan, kalaupun ada mereka hanya pernah masuk dan terdaftar sebagai siswa Madrasah Diniyah, bukan sebagai siswa Madrasah Ibtidaiyah.   Masyarakat komplek termasuk kalangan masyarakat yang berada                ( kaya )  dan berpendidikan. Mereka tentunya mencari sekolah yang lebih baik walaupun jauh. Begitu juga  Sekolah Taman Kanak-kanak  yang ada di depan Madrasah Al – Ihsan, TK  Purwanida kepunyaan masyarakat komplek, lulusannya tidak ada yang mau masuk ke Madrasah  Al – Ihsan yang kondisinya jelek, kumuh dan kampungan, karena  memang hampir semua siswa yang masuk ke Al – Ihsan berasal dari orang-orang kampung yang tidak punya. Akhirnya merekapun berkata :  “ Daripada ora sekolah mendingan ke   Al – Ihsan”.

Sinisme  ini terasa  nyleneh dan menyakitkan, tapi  pihak sekolah tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaan sekolah begitu adanya. Masuk gratis tanpa uang pangkal, SPP hanya Rp 5.000,- , gaji guru dan karyawan perbulan hanya Rp 60.000,-  ( enam puluh ribu rupiah ), sehingga banyak guru dan karyawan yang berhenti dan mengundurkan diri.  Ini kondisi real Madrasah Al – Ihsan pada saat pertama saya ditugaskan sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Ibtidaiyah pada Tahun Pelajaran  1999 / 2000 menggantikan kepala sekolah yang lama Ibu Dra. Hj. Yenni Triasih ( SMP / MTs )   dan Bapak H.M. Idris Siman ( MI ). Pada saat itu  pagi hari  saya bertugas di Madrasah  Al – Ihsan sebagai kepala madrasah dan siang hari bertugas sebagai guru dinas di MTs N  Pamulang. Kemudian tahun 2003 secara resmi saya diangkat  oleh Departemen Agama sebagai kepala madrasah  definitif, dengan tugas pokok sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah, namun oleh pihak yayasan tugas saya rangkap selain Kepala Madrasah Tsanawiyah saya juga sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah Al- Ihsan sampai akhir tahun 2012.

 

Bagi saya sinisme diatas bukan aib, justru malah menginspirasi  saya selaku kepala madrasah untuk bermimpi bisa memiliki sekolah yang baik dan bermutu. Tekad saya  sejak melangkahkan kaki ke pintu gerbang Madrasah Al – Ihsan pada Tahun Pelajaran 1999/ 2000 “ Sekolah ini harus berubah”.  Apa guna saya datang dan ditugaskan disini kalau kondisi sekolah ini tetap begitu.     Fakta yang ada pada  Madrasah Al – Ihsan sampai  tahun  2000 :

 

  1. Jumlah siswa  Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah  tidak sampai 200 orang
  2. Mayoritas siswa berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dalam katagori miskin
  3. Uang sumbangan pembangunan / uang pangkal  gratis dan SPP  rendah
  4. Gaji  guru dan  karyawan  rendah sekali, itupun  sering terlambat
  5. Gaji  guru  dan karyawan sebagian masih  mengandalkan  sumbangan dari  donatur

( Almarhum Bapak H. Sokama Karya / Pengurus yayasan )

  1. Kondisi  bangunan semi permanen, lantai ubin teraso ukuran 20 x 20, atap berupa genteng plentong, dan tidak terbayang bisa memiliki gedung bertingkat
  2. Lab Komputer, IPA dan Lab bahasa merupakan  barang mahal  yang  tak pernah bermimp untuk dimiliki.

 

Kondisi diatas bukan hanya itu, kedisiplinan sulit terwujud  karena guru dan karyawan tidak bisa berkonsetrasi penuh. Mereka tidak bisa mengandalkan hanya dengan honor Rp 60.000,- perbulan untuk keperluan rumah tangga, karenanya  banyak guru dan karyawan yang mengundurkan diri. Sebagai Kepala Sekolah saya terus berfikir, langkah apa yang harus saya ambil  guna membalikan  kondisi ini. Satu hari setelah menerima  SK  dari pengurus yayasan sebagai Kepala Sekolah  tertanggal 1  Agustus  1999, saya dan  Kepala Tata Usaha yang baru ( Bapak Yatiman ) membersihkan rerumputan di tanah yang menggunung di samping sekolah dan tumpukan sampah yang ada di depan kantor ruang TU sekaligus ruang Kepala Sekolah.   Hampir tiga hari berturut-turut pekerjaan ini kami lakukan dengan serius.

 

Langkah selanjutnya adalah menaikan honor  guru dan karyawan. Usaha pertama yang saya lakukan adalah menyampaikan aspirasi  kepada pengurus yayasan aktif, yaitu Bapak H. Sokama Karya selaku Ketua Bidang Pendidikan dalam kepengurusan yayasan Al-Ihsan. Saya katakan kepada beliau bahwa sulit rasanya mengajak guru dan karyawan disiplin kalau honor mereka sangat rendah. Beliau paham maksud saya, beliau  setuju dan bersedia menutupi kekurangannya. Sejak saat itu, bulan berikutnya honor guru dan karyawan berangsur naik.

 

Selanjutnya pada tahun kedua saya bertugas, kami mengundang seluruh  wali murid dan  mendiskusikan  kenaikan uang SPP.  Harapan kami uang SPP  yang semula  Rp 5.000,-.  bisa menjadi Rp 10.000,- gagal. Forum orang tua hanya menyetujui  uang SPP  naik   Rp 2.500,- sehingga  uang SPP menjadi  Rp 7.500,- untuk Madrasah Ibtidaiyah dan Rp 17.500,- untuk Madrasah Tsanawiyah. Hasil dari uang SPP tersebut setiap bulannya masih belum bisa menutupi honor guru dan karyawan. Sampai tahun  2003, setiap akhir bulan Bendahara Sekolah  ( Ibu Hanifah ) dan Wakil Kepala Sekolah ( Bapak Drs. Ai Sopandi ) pergi ke rumah Bapak H. Sokama  Karya meminta bantuan untuk mengatasi kekurangan honor guru dan karyawan.

 

Usaha lainnya adalah memantapkan kedisiplinan dalam kegiatan pembelajaran. Sejak semula kepimimpinan saya kedisiplinan menjadi suatu hal yang harus dijalankan. Jadwal pelajaran harus sudah ada pada hari pertama siswa masuk sekolah. Jadwal itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaanya, hari pertama masuk sekolah  siswa boleh dipulangkan jam 10.00 WIB, namun hari kedua dan seterusnya pulang sebagaimana tertera pada jadwal.  Begitupun setelah libur panjang pasca Hari Raya. Hari pertama masuk sekolah siswa dan guru melaksanakan halal bihalal, dan pulang cepat. Hari kedua siswa belajar efektif dan pulang sebagaimana mestinya. Dengan kedisiplinan ini, masyarakat mulai melirik  Madrasah Al – Ihsan.  Mereka memasukan anaknya ke Madrasah Al – Ihsan alasannya karena  sekolah ini disiplin. Siswa masuk dan pulang  tepat waktu, sehingga dari tahun ke tahun animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Madrasah                        Al- Ihsan terus meningkat. Karena terbatasnya daya tampung, tes penerimaan siswa barupun diterapkan. Awal Mei setiap tahunnya tes masuk dilaksanakan dan pembayaran keuangan disegerakan. Dengan uang pangkal yang masuk  penambahan ruang kelas  terus dilaksanakan, dan awal Juli ruang kelas baru sudah bisa ditempati.

 

Kedisiplinan terus ditingkatkan, fisik sekolah, dan sarana prasarana terus diupayakan. Uang sumbangan pendidikan atau uang pangkal dan uang SPP untuk siswa baru setiap tahun dinaikan dan siswa lama bayar tetap seperti semula.  Dengan begitu kenaikan uang sumbangan pendidikan  dan uang SPP tidak ada masalah. Konsekwensinya, uang SPP siswa Madrasah Ibtidaiyah dan  Madrasah Tsanawiyah  Al – Ihsan  Pamulang hingga kini sangat bervariasi.

 

Dari uang pangkal yang terkumpul setiap tahun Madrasah Al- Ihsan terus membangun, menambah ruang kelas baru dan ruang lainnya. Prinsip kami setiap tahun harus tampil beda,  paling tidak warna cat  nampak baru. Ditambah lagi  dengan adanya bantuan  renovasi dan bantuan ruang kelas baru dari Departemen Agama pusat dan provinsi dan sedikit dari Departemen Pendidikan Nasional, pembangunan  fisik terus bertambah. Semua itu berkat do’a, kerjka keras, dan kepercayaan semua pihak.

 

Strategi lain yang kami jalankan untuk menambah pamor sekolah adalah menambahkan kata “ Pamulang “ pada nama  sekolah. Awalnya sekolah ini bernama  “ Madrasah Al – Ihsan” dan pada kostum seragam olah raga tertulis  “ Madrasah Al – Ihsan Bambu Apus”. Kemudian  kami  ganti nama  itu menjadi  “Madrasah Al – Ihsan Pamulang”. Nama baru itu membawa berkah. Dengan keberkahan itu kemajuan demi kemajuan terus kami raih. Awal saya masuk sekolah ini  hanya memiliki 10 ruang kelas, 6  untuk Madrasah Ibtidaiyah dan 3 ruang untuk Madrasah Tsanawiyah dengan kondisi yang memprihatinkan, kini menjadi 20 ruang kelas dengan kondisi baik.  Ditambah lagi  Lab  Komputer, Lab IPA lengkap dan Lab Bahasa.

 

Kemajuan yang diraih Madrasah Al – Ihsan Pamulang tidak terlepas dari do’a, kemauan, kerja keras, kedisiplinan, kejujuran, dan kepercayaan. Dan satu hal yang teristimewa dan langka  dari Madrasah Al – Ihsan ini adalah  pengurus yayasan tidak sama sekali mencampuri urusan keuangan sekolah. Uang apaun kebijakan sepenuhnya diserahkan ke sekolah, termasuk uang pembangunan, honor guru dan karyawan serta  honor kepala madrasah. Sebesar apapun dan dari manapun uang bantuan, uang pangkal dan uang SPP mereka tidak mau tahu. Mereka mebantu dan membimbing bagaimana sekolah bisa maju. Pengurus yayasan mengetahui undang-undang yayasan yang berlaku saat ini  bahwa pengurus yayasan tidak menerima imbalan. Peraturan itu mereka pegang teguh.

 

Kebijakan mau membangun, merenovasi, menaikan honor guru dan karyawan termasuk menaikan uang pangkal dan uang SPP sepenuhnya menjadi tanggung jawab  sekolah. Disilah letak kepercayaan yang kami terima dan kejujuran yang harus kami jalankan. Dengan modal kepercayaan dan kejujuran, kepala sekoah beserta seluruh dewan guru dan karyawan berusaha sebaik mungkin  agar bisa membawa sekolah ini terus maju dan berjaya dibawah Ridho Allah Yang Maha Kuasa.  Amiin Ya Robbal ‘Alamiin.

Pamulang,  4  April 2013

P e n u l I s

Kepala  MTs  AL – IHSAN Pamulang

Drs. Agus  Sunardi, MM

Leave a Reply